Prof Dr FG Winarno, Faisal Basri MA, Dr Purwadi, dan
Ir Muhammad Shobirin berasal dari keluarga berbeda dan tidak saling mengenal.
Tetapi, ada kesamaan pada keempatnya, mereka berhasil melakukan mobilitas
sosial melalui pendidikan.
Pasangan Rijan dan Yatinem bakul sayur kecil yang menjajakan dagangan dengan keliling kampung di Rejoso, Nganjuk. Tetapi, putra mereka, Purwadi (37), berhasil menjadi doktor dan kini mengajar di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.
Pasangan Rijan dan Yatinem bakul sayur kecil yang menjajakan dagangan dengan keliling kampung di Rejoso, Nganjuk. Tetapi, putra mereka, Purwadi (37), berhasil menjadi doktor dan kini mengajar di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.
Faisal Basri (48), pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, masih mengingat bagaimana dia harus berjalan kaki 4 kilometer dan naik mobil omprengan demi mencapai sekolahnya di SMAN 3 di Jalan Setiabudi, Jakarta Selatan, dari rumahnya di perkampungan Kebon Baru, Gudang Peluru, Jakarta Selatan. Itu karena kehidupan orangtuanya begitu sederhana sehingga uang sakunya hanya cukup untuk bayar ongkos omprengan sekitar Rp 15.
FG Winarno mengaku berasal dari keluarga sangat
miskin, ibunya buta huruf dan ayahnya hanya berpendidikan kelas II sekolah
dasar (SD). Ketika Winarno kuliah tingkat III di Fakultas Kedokteran Hewan
Institut Pertanian Bogor (saat itu masih di bawah UI), ibunya kena tumor
payudara.
"Ibu saya takut sekali ke dokter, sementara
tumornya sudah menyebabkan luka dan warnanya hitam," papar Winarno. Karena
juga tidak memiliki biaya untuk ke dokter dan ditantang kakaknya untuk-sebagai
"dokter"-menolong ibunya, akhirnya Winarno dengan membawa peralatan
bedah kedokteran hewan mengoperasi tumor ibunya di rumah.
Saat menggunting bagian tumor yang menghitam, ternyata
ada pembuluh darah yang terpotong. Winarno menjahit luka itu memakai benang
jahit biasa yang sudah diberi alkohol. Peristiwa itu menimbulkan trauma panjang
pada Rektor Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta itu.
Sementara itu, orangtua Shobirin petani yang luas
tanahnya hanya sekitar 300 meter persegi di Desa Panggungharjo, Grobogan, Jawa
Tengah, dan memiliki sembilan anak. Tekad kuat untuk meraih kehidupan lebih
baik yang akhirnya membuat dia lulus cum laude sebagai sarjana elektro dari UI.
Kini dia bekerja sebagai penyelia di Project & Network Development
Department Customer Service Division PT Toyota-Astra Motor. Anak keempat ini
berhasil membantu biaya pendidikan kakak ketiganya hingga menjadi sarjana,
masih membiayai dua adiknya di perguruan tinggi dan dua lainnya di sekolah
menengah. "Yang bungsu ikut orangtua di kampung," kata Shobirin yang
lahir dan bersekolah hingga SMP di Grobogan.
Makan gratis
Makan gratis
Menyelesaikan pendidikan sarjana dianggap sebagai
batas minimal yang harus dicapai untuk dapat memperbaiki kehidupan karena
membuka kesempatan pada lapangan pekerjaan yang lebih baik.
Sejak kelas IV SD Winarno sudah menyadari, kemiskinan
membuat keluarganya diperlakukan berbeda. Ayahnya, RM Mintorekso, petugas
kepolisian berpangkat rendah bergaji kecil. Setiap ada saudara yang punya
hajatan, ibu-ibu yang lain diminta menjadi penerima tamu, sementara ibunya
hanya diminta daden geni (menyiapkan api buat memasak) di dapur. "Ternyata
karena keluarga kami miskin," kata Winarno.
Sejak itulah Winarno bertekad menjadi orang pintar dan
berpendidikan. "Saya berpikir, menjadi orang pintarlah satu-satunya cara
mengubah keadaan. Kalau tidak, saya tidak mungkin jadi kaya karena saya bukan
anak orang kaya," kata Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan IPB itu.
Dia memilih masuk Jurusan Kedokteran Hewan IPB karena ada beasiswa ikatan dinas sehingga mudah mencari kerja saat lulus. Pengalaman dengan ibunya membuat Winarno banting setir. Dia menekuni teknologi pengolahan hasil ternak, pilihan yang kemudian mengantarnya ke puncak karier. Dia mendapat beasiswa USAID untuk program S-3 di University of Massachusetts, Amerika.
Purwadi, selulus SMA di Nganjuk, masuk Jurusan Sastra Budaya Universitas Gadjah Mada melalui program Penjaringan Bibit Unggul Daerah. Saat tiba di Yogya, dia hanya dibekali Rp 15.000. Karena uang itu tak cukup untuk bayar kos, dia tinggal menumpang tidur di masjid kampung.
Dia memilih masuk Jurusan Kedokteran Hewan IPB karena ada beasiswa ikatan dinas sehingga mudah mencari kerja saat lulus. Pengalaman dengan ibunya membuat Winarno banting setir. Dia menekuni teknologi pengolahan hasil ternak, pilihan yang kemudian mengantarnya ke puncak karier. Dia mendapat beasiswa USAID untuk program S-3 di University of Massachusetts, Amerika.
Purwadi, selulus SMA di Nganjuk, masuk Jurusan Sastra Budaya Universitas Gadjah Mada melalui program Penjaringan Bibit Unggul Daerah. Saat tiba di Yogya, dia hanya dibekali Rp 15.000. Karena uang itu tak cukup untuk bayar kos, dia tinggal menumpang tidur di masjid kampung.
Orangtua Purwadi kadang mengirimi uang, itu pun hanya
Rp 10.000. Untuk menutupi kekurangan biaya hidup, dia menyambi kerja serabutan:
menjual katung gandum, dagang majalah dan koran bekas, serta memberi les
nembang dan menabuh gamelan.
Untuk mengirit biaya, dia mengandalkan buku
perpustakaan kampus. Dia juga ikut berbagai organisasi mahasiswa di seksi
konsumsi. "Saya banyak dapat makan gratis di situ dan banyak dapat teman
yang mau menolong saat susah," kenang Purwadi.
Sementara ayah Faisal Basri adalah pegawai rendahan perusahaan swasta. Ketika dia di bangku SMP, ayahnya sudah bertahun-tahun tak bekerja.
Menurut Faisal, biaya kuliah dia peroleh dari ibunya yang tampaknya mendapat bantuan keuangan dari keluarga besarnya. Ketika Faisal di tingkat II Fakultas Ekonomi UI, ayahnya meninggal. Dalam kondisi sulit itu, dia mendapat beasiswa dari sebuah lembaga, besarnya Rp 12.5000 per bulan. Padahal, uang kuliah saat itu Rp 15.000 per semester. "Lumayan, dari beasiswa itulah saya hidup," kenang dia.
Sementara ayah Faisal Basri adalah pegawai rendahan perusahaan swasta. Ketika dia di bangku SMP, ayahnya sudah bertahun-tahun tak bekerja.
Menurut Faisal, biaya kuliah dia peroleh dari ibunya yang tampaknya mendapat bantuan keuangan dari keluarga besarnya. Ketika Faisal di tingkat II Fakultas Ekonomi UI, ayahnya meninggal. Dalam kondisi sulit itu, dia mendapat beasiswa dari sebuah lembaga, besarnya Rp 12.5000 per bulan. Padahal, uang kuliah saat itu Rp 15.000 per semester. "Lumayan, dari beasiswa itulah saya hidup," kenang dia.
Shobirin yang selalu berada pada
peringkat kesatu selama di SMA dibebaskan dari biaya pendidikan dan kemudian
diterima di UI tanpa tes. Dia lalu mengajukan permintaan keringanan biaya ke
UI. Karena nilai indeks prestasinya selalu di atas 3,5, dia dibebaskan dari
biaya pendidikan.
Dia juga mendapat beasiswa dari tiga lembaga. Di luar itu, dia mengajar privat anak-anak SMA dan SMP.
Dia juga mendapat beasiswa dari tiga lembaga. Di luar itu, dia mengajar privat anak-anak SMA dan SMP.
Uang yang dia peroleh bukan hanya
dipakai untuk dirinya, tetapi juga membantu pendidikan lima adiknya dan satu
kakaknya.
"Kalau mahasiswa lain selesai kuliah main futsal atau ikut organisasi, saya harus memberi les," kata Shobirin.
Lebih baik Secara sosial dan ekonomi, posisi Faisal Basri, FG Winarno, Muhammad Shobirin, dan Purwadi jauh lebih baik dari orangtua mereka.
"Saya bersyukur anak bakul sayuran di pelosok Nganjuk dapat meraih gelar akademis setinggi itu dan dapat pekerjaan layak," kata Purwadi yang menyelesaikan pendidikan S-3-nya dari UGM dalam waktu 1,5 tahun pada 2001.
"Kalau mahasiswa lain selesai kuliah main futsal atau ikut organisasi, saya harus memberi les," kata Shobirin.
Lebih baik Secara sosial dan ekonomi, posisi Faisal Basri, FG Winarno, Muhammad Shobirin, dan Purwadi jauh lebih baik dari orangtua mereka.
"Saya bersyukur anak bakul sayuran di pelosok Nganjuk dapat meraih gelar akademis setinggi itu dan dapat pekerjaan layak," kata Purwadi yang menyelesaikan pendidikan S-3-nya dari UGM dalam waktu 1,5 tahun pada 2001.
"Saya menapak dari sekolah
negeri dan semua orang di kampung-kampung juga begitu. Kualitas sekolah negeri
itu bagus karena itu akses orang miskin masuk perguruan tinggi negeri melalui
SMA negeri dulu terbuka lebar."
Sekarang, sekolah negeri banyak
yang mutunya menurun, kalah bersaing dengan sekolah swasta atau sekolah internasional. Untuk masuk SMA negeri yang berkualitas pun biaya
mahal. "Jadi, akses orang miskin untuk masuk sekolah bagus mulai tertutup
di tingkat SMA.
Sumber: (Adapted
from KOMPAS, May 18, 2008)
ANALISIS
Istilah mobilitas berasal dari
bahasa latin mobilis yang berarti mudah dipindahkan atau banyak bergerak dari
satu tempat ke tempat yang lain. Kata sosial yang ada pada istilah mobilitas
sosial untuk menekankan bahwa istilah tersebut mengandung makna gerak yang
melibatkan seseorang atau sekelompok warga dalam kelompok sosial. Jadi
mobilitas sosial adalah perpindahan posisi seseorang atau sekelompok orang dari
lapisan yang satu ke lapisan yang lain.
Menurut Paul B. Horton, mobilitas sosial adalah suatu
gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak
pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya. Sementara menurut Kimball
Young dan Raymond W. Mack, mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur
sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial.
Mobilitas sosial dibagi menjadi beberapa bentuk yaitu mobilitas vertikal,
horizontal, dan antar generasi. Mobilitas vertikal merupakan pepindahan status
sosial yang dialami seseorang atau sekelompok warga pada lapisan sosial yang
berbeda. sedangkan mobilitas horizontal adalah perpindahan
status sosial seseorang atau sekelompok orang dalam satu lapisan.
Mobilitas
vertikal ada dua macam yaitu naik(social climbing) dan
vertikal turun(social sinking). Mobilitas vertikal naik memiliki
dua bentuk ,yaitu sebagai berikut: a) Naiknya orang-orang berstatus
sosial rendah ke status sosial yang lebih tinggi. b) Terbentuknya
suatu kelompok baru yang lebih tinggi dari pada lapisan sosial yang sudah ada. Mobilitas
Vertikal turun juga mempunyai dua bentuk sebagai berikut; a) Turunnya
kedudukan seseorang kedudukan lebih rendah. b) Tidak dihargai lagi suatu
kedudukan sebagai lapisan sosial atas.
Fenomena mengenai anak bakul sayur
jadi doktor merupakan salah satu contoh bentuk mobilitas sosial
vertikal naik antargenerasi, karena dalam fenomena ini terjadi perpindahan
status sosial yang rendah ke status
sosial yang lebih tinggi, dimana anak seorang bakul sayur dapat menjadi seorang
doktor, hal ini tidak hanya terjadi pada satu keluarga melainkan terjadi pada
empat keluarga yang memiliki kehidupan
berbeda-beda diantaranya Prof Dr FG Winarno, Faisal Basri MA, Dr Purwadi
dan Ir Muhammad Sobirin.
Perbedaan kehidupan
yang dijalani oleh keempatnya diantaranya, mulai dari Dr Purwadi yang merupakan
pasangan Rijan dan Yatinem, yaitu seorang bakul sayur kecil yang berjualan
keliling mampu menjadi seorang doktor dan kini mengajar di FBS UNY. Faisal
Basri merupakan anak dari pasangan
keluarga yang hidup sederhana dan serba pas-pasan, sehingga setiap dia
berangkat ke sekolah dia hanya diberi uang saku Rp15, itu hanya cukup untuk
membayar ongkos omprengan yang selanjutnya dia harus jalan 4 kilometer untuk menuju
sekolahnya. Kini ia telah menjadi seorang pengajar di fakultas Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia. FG Winarno dia berasal dari keluarga yang sangat miskin,
ibunya buta huruf dan ayahnya hany berpendidikan kelas dua SD. Ketika ia kuliah
di Fakultas Kedokteran Hewan ibunya kena tumor payudara dan tidak memiliki
biaya untuk dibawa kedokter sehingga ia mencoba untuk mengoperasi tumor ibunya
dan berhasil, kinipun ia telah menjadi seorang profesor doktor. Muhammad
sobirin berasal dari keluarga miskin yang bermata pencaharian petani yang hanya memiliki luas tanah sekitar 300
meter, orang tuanya memiliki sembilan anak, tapi kini ia telah sukses, dan
bekerja di project dan network development departement customer service
division PT Toyota Asrta-Motor dan ia telah berhasil membiayai sekolah
saudara-saudaranya
Peristiwa-peristiwa
yang dipaparkan diatas merupakan bentuk mobilitas yang benar-benar terjadi di kehidupan
masyarakat. Adanya perpindahan status sosial ini menjadikan perubahan sosial
dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, dimana keluarga yang dulunya mempunyai
derajat sosial yang rendah sekarang berubah menjadi keluarga yang mempunyai
derajat yang tinggi. Kasus ini disebabkan karena adanya bidang pendidikan dan
kemauan keras yang membuat anak penjual sayuran dapat menaikkan derajat
keluarganya, disini keluarga ini akan memperoleh kekayaan dari hasil yang
diperolehnya, memperoleh pengetahuan yang lebih maju dan mempunyai kehormatan
yang lebih dalam kalangan masyarakat.
Itulah kasus mobilitas
sosial vertikal yang terjadi dalam suatu masyarakat yang dapat menjadikan
kehidupan seseorang berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Komentar
Posting Komentar