Kasus AIDS Berhubungan Erat dengan
Antropologi Emosi
Submitted by aris on Wed, 02/18/2009 - 14:55
Hingga 2008 kemarin, sebanyak 383 penderita HIV/AIDS berada
di Yogyakarta. Namun dari keseluruhan penderita tersebut belum semuanya
terdeteksi. Menurut peneliti AIDS dari Universitas Gottingen Jerman Thomas
Stodulka, M. A, banyak dari penderita yang masih enggan dan malu mengakui bila
dirinya sudah positif HIV/AIDS.
“Perasaan malu menjadi bagian yang terpisahkan dari para
Odha (penderita HIV/AIDS), karena besarnya stigma yang diberikan oleh
masyarakat kepada mereka apalagi dengan anggapan bahwa penyakit ini menentukan
persoalan hidup dan mati,” ujar Thomas Stodulka, M. A, dalam diskusi “The
Anthropology of AIDS a matter of Life and Death?” di ruang seminar Pusat Studi
Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada beberapa waktu lalu.
Menurut Thomas, pola pikir ini mayoritas masyarakat DIY
inilah merupakan fenomena yang sama terjadi di masyarakat dunia. “HIV-AIDS
bukanlah hanya fenomena dan masalah lokal, tetapi juga global. Hampir semua
negara menghadapi hal yang sama,” tukasnya.
Selama dua tahun penelitian di DIY, Thomas mengaku dirinya
lebih memfokuskan pada penderita HIV AIDS dari sisi antropologi emosi. “Saya
khususkan pada kasus HIV/AIDS, lebih difokuskan pada antropologi emosi. Saya
pikir ini memang ada jawabannya, karena emosi berhubungan dengan lingkungan
biologis, sosial dan budaya,” ujarnya.
Berdasarkan pengalamannya, perasaan “malu” begitu menguat di
lingkungan Odha. Terutama pada keluarga dan sanak saudara. Bahkan bagi mereka
yang menderita sakit HIV/AIDS, TBC, Diabetes, flu burung pun menurutnya tetap
saja memiliki perasaan malu yang akan mempengaruhi identitas mereka.
“Di sini, masyarakat mengevalusai individu, sehingga
menimbulkan stigma dan merusak identitas individu tersebut,” tegasnya.
Selain itu, dirinya masih menyesalkan bahwa penanganan
HIVAIDS selalu ditindaklanjuti setelah ada laporan angka penderita Odha
meningkat cukup besar. Disebutkan Thomas, Pemerintah, lembaga internasional,
LSM dan masyarakat terkesan akan bertindak jika angka kasus yang dilaporkan
sangat tinggi, padahal angka tersebut belum tentu benar.
“Biasanya mereka akan gerak kalau angka sudah tinggi,
misalkan saja ada survei yang menyebutka 25 persen penduduk DIY penderita HIV/AIDS,
dipastikan semua elemen masyarakat bertindak, dan menganggap ini persoalan
semua orang,” katanya.
Hal yang sama juga disampaikan Ani Himawati peneliti dari
Universitas Leiden, Belanda. Menurutnya, ada kekhawatiran berlebihan dari
masyarakat agar kampanye HIV/AIDS ini tidak memasuki wilayah yang masih
dianggap tabu dan privat.
“Ada kekhawatiran dari masyarakat yang masih enggan
membicarakan sesuatu yang sifatnya memasuki wilayah tabu dan privasi,”
tegasnya.
Menurut Ani, sudah saatnya masyarakat diajak untuk tidak
lagi malu mengakui secara terbuka jika mereka sudah tertular, sehingga HIV/AIDS
bukan lagi bersifat eksklusif tapi merupakan persoalan semua orang. (Humas
UGM/Gusti Grehenson)
Komentar
Posting Komentar