Langsung ke konten utama

Jika Merasa Kurang, Lebihkan Syukurmu

Kemarin menyempatkan waktu bolak balik dari rumah ke asrama buat ambil beberapa barang yg masih tertinggal. Sebelum pulang, kusempatkan untuk makan bersama teman, padahal waktu sudah sore. Aku lupa kalau waktu terus berjalan, semoga saja masih ada bis yang sampai rumahku, pikirku. Terlalu asik mengobrol dengan teman, jam 15.30 aku baru menunggu bis, Alhamdulillah masih ada bis yang lewat meski bis ekonomi ala kadarnya, yang penting sampai rumah. Aku melihat seorang nenek, duduk paling depan, ku kira ia bersama cucunya, karena ada lelaki muda yg duduk di sebelahnya. Ternyata dugaanku salah. Ia sendirian, turun di tujuan yang sama denganku. Membawa dua tas diangkat kanan dan kiri, kita menaiki angkot yang sama untuk tujuan ke kota, karena bis tidak mengantar sampai kota. Baru saja berjalan, beberapa meter, ban angkot bocor, membuat para penumpang turun dan memilih angkot lain. Padahal waktu sudah sore, belum tentu ada angkot lewat di jam itu. Nenek tadi tetap duduk di depan, sementara sopir angkot sedang memperbaiki bannya. Aku keluar angkot, berdiri di samping pintu depan di dekat nenek. Melihatnya membuatku merasa iba, membayangkan jika itu nenekku, pergi jauh sendirian, bahkan tidak membawa alat komunikasi utk menghubungi anaknya ataupun saudaranya. Nenek itu bercerita, ia diantar anaknya ke Jogja, utk menginap di rumah adiknya selama satu minggu, nanti akan di jemput lagi. Tapi nenek tidak betah, dan memutuskan pulang sendiri, ke terminal naik bis sendiri, dengan perlakuan beberapa orang yg tidak ramah padanya. Ia memutuskan pulang ke rumah anaknya, karena sudah terlalu sore kalau pulang ke rumahnya. Wajahnya menunjukkan kelelahan, nenek tua, dengan barang bawaannya pergi sendirian. Beruntungnya, ia mengerti bis apa yang harus di naiki dan tujuannya kemana. Kemudian ada angkot lain datang, kami memilih angkot itu meski harus berdesakan, yg penting tidak kesorean sampai tujuan. Termasuk aku masih harus naik bis sekali lagi untuk sampai rumah. Sopir angkot yang bannya bocor merelakan penumpangnya, ia tak dapat setoran sore ini. Nenek tadi sampai tujuannya, ia menyapaku dan tersenyum. Tak bisa kubayangkan jika nenek atau kakekku yang pergi sendirian dengan kebingungan. Membuatku bersyukur dengan kondisi yang kuterima saat ini, kadang diri ini masih sering mengeluh dengan kesendirian, dengan jauhnya jarak tempuh lalu malas pulang, tapi ada seorang nenek tua pergi sendirian hanya untuk menghampiri anaknya. Lalu aku belajar tidak semua kenyataan kita sesuai ekspektasi. Ketika sopir angkot tadi, harus kehilangan penumpangnya krn tiba2 bannya bocor. Padahal pada hari itu penumpang sepi, saat ia mendapat banyak, ia harus kehilangan penumpangnya. Tapi, se-sepi apapun penumpang, sopir angkot tetap harus menjalankan angkotnya, berjuang mencari uang untuk keluarganya. Bekerja memang tidak ada yang mudah, tapi kadang diri ini sudah merasa lelah padahal belum memperjuangkan apapun. Manusia memang kadang terlalu fokus pada kekurangan dan lupa memperbanyak syukur. Maka jika merasa kurang, lebihkan syukurnya, semua jadi akan terasa cukup.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN OBSERVASI TAMAN PINTAR

A.     DESKRIPSI TAMAN PINTAR 1.       Sejarah Taman Pintar Taman Pintar merupakan obyek wisata pendidikan keluarga di Kota Yogyakarta yang menawarkan wahana belajar sekaligus rekreasi yang komplit untuk anak-anak, mulai dari usia pra sekolah hingga tingkat sekolah menengah. Rentang usia kelompok sasaran ini dipilih karena dipandang sebagai generasi penerus bangsa yang potensial untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Di dalam taman yang digagas oleh Wali Kota Yogyakarta, Herry Zudianto, SE.Akt, MM, dan dibangun di atas lahan seluas 12.000 meter persegi ini, terdapat enam zona dengan bermacam wahana bermain dan belajar yang disertai alat peraga iptek. Begitu memasuki kawasan ini, pengunjung dapat langsung menyaksikan dan mencoba hasil karya inovasi teknologi dan permainan dari pelbagai wahana tersebut. Di Indonesia, terbentuknya taman semacam ini diawali dengan berdirinya pusat peragaan iptek yang berlokasi di Taman M...

perubahan Sosial Budaya di Terminal Giwangan

Perubahan sosial adalah suatu keadaan yang berbeda dari keadaan awal dan sesudahnya peristiwa itu terjadi. Karena ada tiga indikator yaitu: faktor penyebab, proses, dan dampak. Terminal giwangan adalah salah satu contoh penyebab adanya perubahan sosial di daerah Yogyakarta, khususnya masyarakat Giwangan sendiri.

share everything

ketika aku merasa gagal akan segala hal, kau mengjarkan bahwa aku masih beruntung memiliki wanita kuat sepertimu.  memang jauh di mata, tapi dekat di hati. Memiliki perasaan yang tiada tara habisnya. tanganmu, tak pernah membelai rambutku, yang kini mulai menipis, banyak yang rontok, sudah tidak seperti dulu, ketika kau bilang, rambutku sepertimu, mengembang tebal, dan terlalu banyak. tapi, aku tahu, kau mengirimkan belaianmu lewat doa-doamu, Tuhan mengirimkan kasih sayangmu yang jauh disana. meskipun aku tak pernah bagaimana dekapanmu, yang kata orang, dekapan dari wanita sepertimu, mampu menghilangkan seribu kesedihan, tapi aku tak pernah tahu bagaimana rasanya. yang aku tahu, dekapan itu adalah dekapan dari Tuhan yang mengirimkan dekapan darimu.  ketika aku merasa bahwa ketidakadilan itu serasa mencekik kehidupanku di masa ini, aku akan merasa sangat berdosa jika melupakanmu dari semua perjuangan yang telah engkau berikan.saat aku merasa aku berjuang sendiri, aku menco...