Langsung ke konten utama

Gara-gara 2 film Galau


ket. Film Radio Galau fm
Dua hari yang lalu aku baru aja liat film Kambing Jantan punya Raditya Dika. Oke, aku tahu, itu film udah diputer pas aku masih SMP. Sekarang umur aku udah 20 tahun, pasti orang bakal ngomong aku katro. Biarkan orang berkata apa, karena senyatanya orang-orang disekitar aku malah ada yang belum nonton. Kesimpulannya aku hidup di lingkungan yang tingkat pergaulannya rendah. Tapi kalau misalnya aku nonton itu film pas SMP, aku nggak bakal bisa nangkap maksud dari film. Belum saatnya otakku yang masih unyu unyu lembut ngeliat film itu di umur 14 tahun. Malah yang ada aku tangkap dengan mentah-mentah. Malah mikir kalo pacaran manggil kebo dan kambing itu romantis. Kalo aku nonton sekarang, mikirnya kan jadi lain, ada nilai-nilai yang bisa aku dapet dari film. Harus bisa menangkap dengan intelektualitas yang tinggi. Aku kan mahasiswa coy, bergaya pinter dikit laah, nggak ada yang tahu juga kan IPK yang aku dapet berapa, yang penting keliatan pinter ngomongnya. Gaya mahasiswa banget. Kembali ke kambing jantan, mana ada pacaran yang romantis dengan manggil pacarnya pake nama hewan, sama aja kita dikatain kaya hewan. Keliatannya aja romantis, karena di film. Coba buktiin itu ke dunia nyata, yang ada bakal diseruduk sama kambing atau kebo beneran.
ket. Film Kambing Jantan

            Ngomong-ngomong soal film, film yang pertama aku tonton adalah film suster ngesot yang aku tonton di bioskop sama temenku, namanya Afi. Bioskopnya aja bioskop tua, yang kadang masih ada tikus yang juga pengen nonton. Tiketnya myurah banget, Cuma 6ribu, murahnya 5 kali lipat dari bioskop jaman sekarang. Tapi filmnya baru diputer dua bulan atau tiga bulan dari tayang perdananya, sama aja kaya nonton di tv, tapi bedanya ini nonton di bioskop. Karena baru pertama kali nonton film, aku pengen mempraktekan cara orang nonton film yang pernah aku liat di sinetron. Pengen bawa popcorn, dan soft drink. Tapi karena itu bioskop yang cuma 6 ribuan, nggak ada yang jual popcorn, apalagi soft drink, adanya cang ci men (kacang, kuaci sama permen), lebih keren lagi ada kacang rebus. Berasa kembali ke jaman kolosal, nonton layar tancep. Akhirnya aku pergi ke supermarket terdekat. Dulu belum ada alfamart atau indomart, yang kalau kita beli barang dikit nggak bakal gengsi atau malu. Adanya baru matahari, yang masuk malah adem, bukannya panas, yaiyalah, namanya supermarket. Di tempat segede itu, aku sama afi Cuma beli dua macam snack dan dua minuman dingin. Habis itu kita ngantri dan langsung nonton film. Filmnya ada Suster Ngesot, yang main Nia Ramadhani dan akhir ceritanya aja nggantung. Bukan filmnya yang berkesan, tapi itu adalah pertama kalinya aku masuk bioskop yang cuma 6 ribuan, dan nonton film bareng sahabat tercinta, Afi.

Balik lagi ke topik, selain kambing jantan, baru satu jam yang lalu, aku nonton film yang baru tahun lalu diputer, meski kata temenku si Ucup, itu film udah lama banget, aku tahu film ini juga dari dia, setelah satu tahun yang lalu Ucup cerita tentang film ini, aku baru nonton filmnya barusan. Judulnya Radio Galau fm, pemainnya Dimas Anggara. Ceritanya sih nggak jauh beda dari Kambing jantan. Keduanya bahas yang sama tentang masalah jomblo, masalah pacaran, masalah anak muda, galau, dan diakhiri dengan menulis. Bedanya di film Radio Galau fm, nggak bahas tentang LDR, yang disalah artikan sama Raditya Dika di filmnya.
Aku nggak mau buat resensi tentang kedua film tersebut, nggak meringkasnya, atau disinopsis. Hanya ingin bercerita bagaimana kedua film itu berpengaruh padaku malam ini. kedua film ini sama-sama diambil dari buku dengan judul yang sama. Isinya juga tentang masalah anak muda yang dihadapi sehari-hari. Pacaran dan bagaimana cara mengatasinya. Aku nggak mau bahas tentang cerita pacarannya. Karena buat aku itu menyedihkan. Liat Radit mau putus sama Kebo aja, aku nangis, liat Velin diduain sama Bara aja aku kasiiiiaaaaaaaaan banget sama Velin. Kenapa di kedua film itu pihak perempuan yang disalahkan, kenapa nggak dateng Kartini dan menyelamatkan mereka dari kesalahpahaman laki-laki itu? Kenapa film itu memperlihatkan cewek yang cerewet yang manja, butuh perhatian, kenapa bukan cewek lugu yang ditampilkan, atau cewek tomboy sekalian yang nggak cuma ngomel tapi sekalian nonjok. Tapi emang nggak bisa dipungkiri, itu fakta yang terjadi pada perempuan. Lemah lembut, tapi juga cerewet, karena itu wanita butuh pria untuk menyeimbanginya, bukan disalahkan dan ditindas. Ini suara hati wanita yang paling dalaaaaaaaam.
Yang menarik dari film ini adalah ketika dua-duanya mampu menuliskan cerita tentang kehidupannya menjadi cerita yang menarik. Bagaimana mereka melihat kisah seharinya-harinya menjadi suatu hal yang pantas ditulis dan enak dibaca. Kedua film ini kan based true story, aku jadi terheran-heran, kenapa mereka bisa semenarik itu dalam membuat cerita dalam tulisannya. Kalau coba disadari banyak orang yang kisahnya hampir seperti mereka, cerita  mereka itu kan hanya kisah mereka sehari-hari yang natural dan nggak dibuat-buat. Tapi kenapa Cuma mereka yang bisa menulis kisahnya bahkan difilmkan dengan alur yang begitu mudah dipahami dan menarik?
Apa keahlian menulis itu diperlukan dalam menciptakan sebuah karya? Bahkan karya mereka diakui secara Nasioonal dan menjadi buku best seller. Mereka mencoba mengangkat cerita mereka menjadi cerita yang lucu tapi juga nggak absurd. Akhirnya pun mereka menjadi penulis terkenal.
Aku juga pengen jadi penulis, menceritakan kisahku sehari-hari, ringan, agar aku tak perlu berpiir panjang dalam menulis. Aku nggak suka yang berat-berat. Menulis itu seperti bermain gitar. Ketika aku mulai mengetik berbagai huruf di keyboard, rasanya seperti memetik senar gitar, memainkan suatu kunci dan menciptakan suatu nada yang indah. Dua film itu menyadarkan aku, bahwa menulis itu mudah, bahkan cerita tentang kita buang air aja bisa jadi cerita. Ketika Raditya Dika bilang bahwa dia Cuma pengen cerita, dia pengen orang lain ketawa denger cerita dia, baca cerita dia, pengen buat orang lain lupa dengan stresnya hidup. Bara bilang pengen jadi penulis, yang bisa melampiaskan segala masalahnya dalam tulisan sebagai penghilang stres.  Aku juga ingin menulis dengan keinginan yang sama seperti keduanya. Aku seperti memiliki hidup yang baru ketika aku mampu menulis, terlebih sejarah adalah penting dalam hidup kita, tapi bagaimana jika sejarah itu tidak ditulis, sepertinya semakin sedikit orang yang belajar dari sejarah.
Dua film itu membuat semangat menulisku kembali lagi. One Day One Work. Satu hari satu karya (tulisan) adalah semangat baruku. Siapa tahu, aku juga akan menjadi penulis dan menjadi pemain film seperti mereka. hahahahaha. Menulis seperti pula melukis mimpi, dengan tinta-tinta sebagai kalimatnya.
Dengan menulis, aku hanya ingin membuat karya. Sekali lagi aku hanya ingin membuat karya, yang aku mengerti dan orang lainpun menerimanya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN OBSERVASI TAMAN PINTAR

A.     DESKRIPSI TAMAN PINTAR 1.       Sejarah Taman Pintar Taman Pintar merupakan obyek wisata pendidikan keluarga di Kota Yogyakarta yang menawarkan wahana belajar sekaligus rekreasi yang komplit untuk anak-anak, mulai dari usia pra sekolah hingga tingkat sekolah menengah. Rentang usia kelompok sasaran ini dipilih karena dipandang sebagai generasi penerus bangsa yang potensial untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Di dalam taman yang digagas oleh Wali Kota Yogyakarta, Herry Zudianto, SE.Akt, MM, dan dibangun di atas lahan seluas 12.000 meter persegi ini, terdapat enam zona dengan bermacam wahana bermain dan belajar yang disertai alat peraga iptek. Begitu memasuki kawasan ini, pengunjung dapat langsung menyaksikan dan mencoba hasil karya inovasi teknologi dan permainan dari pelbagai wahana tersebut. Di Indonesia, terbentuknya taman semacam ini diawali dengan berdirinya pusat peragaan iptek yang berlokasi di Taman M...

perubahan Sosial Budaya di Terminal Giwangan

Perubahan sosial adalah suatu keadaan yang berbeda dari keadaan awal dan sesudahnya peristiwa itu terjadi. Karena ada tiga indikator yaitu: faktor penyebab, proses, dan dampak. Terminal giwangan adalah salah satu contoh penyebab adanya perubahan sosial di daerah Yogyakarta, khususnya masyarakat Giwangan sendiri.

share everything

ketika aku merasa gagal akan segala hal, kau mengjarkan bahwa aku masih beruntung memiliki wanita kuat sepertimu.  memang jauh di mata, tapi dekat di hati. Memiliki perasaan yang tiada tara habisnya. tanganmu, tak pernah membelai rambutku, yang kini mulai menipis, banyak yang rontok, sudah tidak seperti dulu, ketika kau bilang, rambutku sepertimu, mengembang tebal, dan terlalu banyak. tapi, aku tahu, kau mengirimkan belaianmu lewat doa-doamu, Tuhan mengirimkan kasih sayangmu yang jauh disana. meskipun aku tak pernah bagaimana dekapanmu, yang kata orang, dekapan dari wanita sepertimu, mampu menghilangkan seribu kesedihan, tapi aku tak pernah tahu bagaimana rasanya. yang aku tahu, dekapan itu adalah dekapan dari Tuhan yang mengirimkan dekapan darimu.  ketika aku merasa bahwa ketidakadilan itu serasa mencekik kehidupanku di masa ini, aku akan merasa sangat berdosa jika melupakanmu dari semua perjuangan yang telah engkau berikan.saat aku merasa aku berjuang sendiri, aku menco...