Langsung ke konten utama

Abu-Abu atau Pelangi


sahabat pelangiku SMA

Masa muda, masa yang berapi-api. Mungkin itulah jargon yang menghantui hati setiap remaja, tak terkecuali aku. Mulai menginjakkan kaki di SMA, duniaku serasa banyak warnanya. Bukan hitam, bukan pula putih atau hanya sekedar abu-abu, lebih dari itu. Duniaku SMA, seperti ada pantulan pelangi setiap hari dari langit yang jatuh dalam kisahku. Berawal dari masuk SMA yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan. Sekolah kecil, yang hanya terdiri dari tiga kelas, muridnya sedikit, gurunya juga sedikit. Parahnya, kepala sekolahnya adalah kakekku. Menyebalkan, aku harus berada satu sekolah dengan kakekku, dan bisa dibayangkan bagaimana teman-teman, kakak kelas, dan guru-guru memandangku keheranan. Sungguh tidak mengenakkan diawal menghormati bendera, saat upacara sebelum MOS dimulai. Mencium baunya SMA saja serasa tidak enak. Suasana MOSpun tak lebih dari sekedar suasana yang amat membosankan, dibanding harus memakai atribut orang gila seperti sekolah lain. Mungkin di SMAku adalah MOS yang paling formal, sepi dan menyedihkan dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain. Bayangkan saja, hari pertama MOS, sudah ada kepala sekolah yang ceramah dengan peserta MOS yang hanya 20 orang. Sangat membosankan.  Sekali lagi, kepala sekolah itu adalah kakekku. Saat itu aku baru tahu, betapa membosankan kakekku ketika mengajar, tapi terlepas dari kepsek ataupun cara mengajarnya, dialah kakekku paling top!

 Dua tahun berada di sekolah dengan keadaan serba kekurangan ini, aku lebih mengerti bagaimana pejuang-pejuang pendidikan dalam mempertahankan sekolah. Mendirikan gedung sekolah di tanah ghibah, yang sebelumnya tanah itu harus diperebutkan dahulu. Mereka berjuang lebih dari sekedar tiga kalimat Ki Hajar Dewantara. Nilai memberi contoh, memberi keseimbangan, dan memberi dorongan, mereka bekerja lebih dari itu, yaitu menjadikan murid-muridnya menjadi kuli bangunan, tukang kebun, dan penjaga sekolah. Siapa lagi yang akan membangun sekolah jika bukan murid itu sendiri, dan siapa yang akan membersihkan dan menjaga sekolah jika bukan murid itu sendiri. Memasang genteng secara gotong royong, mencabut rumput, membereskan pecahan-pecahan batu, mengepel sekolah, dan banyak lagi lainnya. Aku merasa di sekolah bukan hanya untuk belajar, tapi juga bermain. Bermain menjadi tukang kebun, bermain menjadi kuli bangunan, dan bermain menjadi penjaga sekolah.
kami yang berjuang untuk hidup dan untuk sekolah

Genap tiga tahun berada di sekolah yang kantinnya hanya satu dan nylempit di halaman belakang, disitulah letak warna-warni dari kehidupanku di SMA. Warna warni murid disini bukan sekedar tentang persahabatan yang akhirnya hanya memperebutkan pacar, bukan sekedar adanya geng yang saling menindas pelajar lain, bukan sekedar tertawa dalam hukuman karena membolos, bukan sekedar nyontek di kelas dan tidak boleh ikut ujian. Terlalu umum bagi pelajar SMA peristiwa-peristiwa seperti itu, hingga menurutku kisah seperti itupun sudah tak berwarna lagi. Warna sekolah ini terletak pada bagaimana sang guru berjuang meluluskan siswanya dengan cara menginap setiap malam minggu, belajar matematika, pagi tahajjud bersama. Caranya bagaimana guru berjuang mencari murid ke pelosok-pelosok daerah, karena sekolah ini masih kekurangan murid. Murid dijanjikan biaya gratis, bahkan sekolah sendiri masih sangat kekurangan biaya. Ketika ketua OSIS dan wakilnya diajak keliling oleh Wakil kepala Kesiswaan untuk memasang spanduk penerimaan siswa baru dan harus menginap sekolah. Ketika untuk pertama kalinya siswa dapat mengadakan kegiatan besar berupa Maulid Nabi Muhammad SAW.  Ketika siswa harus bolos berhari-hari karena tidak punya uang untuk sekolah. Ketika bahagia lulus semua, tapi Ijazah kami harus tetap ditahan, sebagai jaminan untuk melunasi uang sekolah. Kakekku tetap kakekku, dan di sekolah ia tetap guruku yang menghukumku dengan teman-teman lain karena membolos serempak.
Sepertinya, sekarang nilai-nilai mendasar dari kehidupan yang harus ditanamkan di sekolah sudah tidak ada.  Warna-warni sekolah lebih kepada abu-abu, yang buram dan keruh. Berapa sekolah yang mampu menciptakan warna-warni pelangi untuk siswa-siswanya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN OBSERVASI TAMAN PINTAR

A.     DESKRIPSI TAMAN PINTAR 1.       Sejarah Taman Pintar Taman Pintar merupakan obyek wisata pendidikan keluarga di Kota Yogyakarta yang menawarkan wahana belajar sekaligus rekreasi yang komplit untuk anak-anak, mulai dari usia pra sekolah hingga tingkat sekolah menengah. Rentang usia kelompok sasaran ini dipilih karena dipandang sebagai generasi penerus bangsa yang potensial untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Di dalam taman yang digagas oleh Wali Kota Yogyakarta, Herry Zudianto, SE.Akt, MM, dan dibangun di atas lahan seluas 12.000 meter persegi ini, terdapat enam zona dengan bermacam wahana bermain dan belajar yang disertai alat peraga iptek. Begitu memasuki kawasan ini, pengunjung dapat langsung menyaksikan dan mencoba hasil karya inovasi teknologi dan permainan dari pelbagai wahana tersebut. Di Indonesia, terbentuknya taman semacam ini diawali dengan berdirinya pusat peragaan iptek yang berlokasi di Taman M...

perubahan Sosial Budaya di Terminal Giwangan

Perubahan sosial adalah suatu keadaan yang berbeda dari keadaan awal dan sesudahnya peristiwa itu terjadi. Karena ada tiga indikator yaitu: faktor penyebab, proses, dan dampak. Terminal giwangan adalah salah satu contoh penyebab adanya perubahan sosial di daerah Yogyakarta, khususnya masyarakat Giwangan sendiri.

share everything

ketika aku merasa gagal akan segala hal, kau mengjarkan bahwa aku masih beruntung memiliki wanita kuat sepertimu.  memang jauh di mata, tapi dekat di hati. Memiliki perasaan yang tiada tara habisnya. tanganmu, tak pernah membelai rambutku, yang kini mulai menipis, banyak yang rontok, sudah tidak seperti dulu, ketika kau bilang, rambutku sepertimu, mengembang tebal, dan terlalu banyak. tapi, aku tahu, kau mengirimkan belaianmu lewat doa-doamu, Tuhan mengirimkan kasih sayangmu yang jauh disana. meskipun aku tak pernah bagaimana dekapanmu, yang kata orang, dekapan dari wanita sepertimu, mampu menghilangkan seribu kesedihan, tapi aku tak pernah tahu bagaimana rasanya. yang aku tahu, dekapan itu adalah dekapan dari Tuhan yang mengirimkan dekapan darimu.  ketika aku merasa bahwa ketidakadilan itu serasa mencekik kehidupanku di masa ini, aku akan merasa sangat berdosa jika melupakanmu dari semua perjuangan yang telah engkau berikan.saat aku merasa aku berjuang sendiri, aku menco...