Langsung ke konten utama

Revolusi Politik Berantas Korupsi Sistemik



Permasalahan korupsi sudah kerap terjadi di Indonesia. Informasi media memberitakan Indonesia menduduki peringkat 64 dalam urutan negara paling korup di dunia. Peringkat tersebut dirilis oleh Transparency International (TI) yang meneliti korupsi di 177 negara pada tahun 2013 (metrotvnews.com). Dalam 9 tahun terakhir (2004-2013) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mengungkap 277 kasus korupsi. Artinya, setiap bulan terungkap rata-rata dua kasus korupsi besar. Belum lagi masalah korupsi yang diungkap oleh kepolisian dan kejaksaan, kalau dihitung semua bisa jadi di Indonesia ini tiada hari tanpa korupsi. Menurut data Kemendagri pada tahun 2013 terdapat 21 Gubernur, 7 Wakil Gubernur, 156 bupati, 46 wakil bupati, 41 walikota, 20 wakil walikota, yang tersangkut kasus hukum, sebagian besar kasus korupsi (tribunnews.com). Diantaranya adalah Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah yang terlibat kasus korupsi Pilkada Lebak, Gubernur Riau, Rusli Zaenal yang terlibat korupsi kasus dugaan suap Revisi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2010 tentang Penambahan Biaya Arena Menembak PON Riau, Bupati Karangasem, Bali I Wayan Geredeg terlibat kasus dugaan korupsi proyek pipanisasi senilai Rp 29 miliar di empat kecamatan di Karangasem. Berita tersebut membuktikan banyaknya korupsi yang terjadi di Indonesia.
A.      Korupsi Sistemik sebagai Patologi Sosial
Korupsi sudah menjadi patologis sosial yang menggerogoti tubuh pemerintahan di Indonesia. Bukan hal yang mengherankan lagi jika kasus korupsi yang terjadi di Indonesia selalu berkaitan dengan sistem politik yang ada. Korupsi dilakukan dari seseorang yang menduduki pemerintahan terendah sampai para tokoh-tokoh nasional yang menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Pada akhirnya korupsi menjadi kebiasaan yang tersistem dan sulit ditemukan akarnya. Jika kasus korupsi yang terjadi hanya satu atau dua kasus saja, mungkin tidak akan sulit untuk memberantasya. Namun, korupsi di Indonesia seperti sudah mendarah daging pada sistem pemerintahan yang ada. Korupsi menjadi suatu hal yang sistemik dan melibatkan banyak orang bahkan juga mengambil banyak uang yang bukan menjadi haknya.

Salah satu contoh mengenai korupsi sistemik seperti berita yang diliput dari Kompas.com berikut ini:


Penahanan Ratu Atut Terkait Kasus Pilkada Lebak
Jumat, 20 Desember 2013 | 17:24 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Juru Bicara KPK Johan Budi mengatakan, penahanan terhadap Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah terkait kasus dugaan suap pada pemilu kepala daerah Lebak, Banten.
"Jadi, penahanan ini berkaitan dengan surat perintah penahanan terkait penyidikan terhadap kasus dugaan tindak pidana korupsi pada Pilkada Lebak di MK. Untuk maksud dan tujuan ini, RAC sebagai tersangka dilakukan penahanan, bukan terkait alkes (alat kesehatan) di Banten," kata Johan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat.
Sebelumnya, setelah diperiksa sekitar 6 jam, KPK menahan Ratu Atut. Rencananya, Atut akan ditahan di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta.
“Ditahan selama 20 hari pertama,” kata Juru Bicara KPK Johan Budi.
Atut tampak keluar Gedung KPK dengan mengenakan baju tahanan oranye. KPK menetapkan Atut sebagai tersangka kasus dugaan suap sengketa Pilkada Lebak sejak 16 Desember 2013.
Dalam kasus Pilkada Lebak, Atut terlibat sejak awal dengan ikut mengondisikan adiknya, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, yang lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka sehubungan dengan kasus mantan Ketua MK, Akil Mochtar. Atut merupakan salah satu Ketua DPP Partai Golkar, sementara Akil sebelum menjadi hakim konstitusi juga anggota DPR dari Partai Golkar.
Penelusuran oleh Kompas, Akil, Atut, dan Wawan tercatat pernah bertemu di Singapura untuk mengurus perkara penanganan sengketa Pilkada Lebak agar memenangi tuntutan pemungutan suara ulang sebagaimana gugatan pasangan calon bupati-wakil bupati yang didukung Partai Golkar, Amir Hamzah-Kasmin.
KPK bahkan menduga bahwa perintah penyuapan datang dari Atut kepada Wawan yang merupakan tim sukses pasangan Amir-Kasmin. Atut diduga punya kepentingan agar pasangan Amir-Kasmin menang dalam Pilkada Lebak. KPK juga menduga bahwa Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah ikut terlibat penggelembungan dana dalam pengadaan alat kesehatan di Provinsi Banten.
Menurut Johan Budi SP, KPK sudah menemukan dua alat bukti yang cukup terkait korupsi dalam pengadaan alat kesehatan di Provinsi Banten. KPK pun terus mengembangkan dugaan korupsi dalam pengadaan alat kesehatan ini untuk mencari pihak lain yang diduga terlibat.
Sumber : nasional.kompas.com

 Sebuah artikel dalam news.detik.com mengatakan bahwa Korupsi di negeri ini menjadi sistemik karena kekuasaan yang korup absolut yang kawin dengan penegakan hukum yang sangat lemah. Yang menyebabkan sistemik sebenarnya dimulai dari korupsi politik, dimana proses demokrasi untuk meraih jabatan dijalani dengan nafsu kekuasaan dan diraih dengan segala cara. Lebih jauh, partai politik juga menjadi sumber ternak koruptor. Biaya politik yang mahal selalu berhulu dari korupsi. Singkatnya begini lingkaran setan korupsi yang sistemik: mengumpulkan dana politik hitam, bertarung dengan politik uang dalam demokrasi, membeli suara melalui penyelenggara Pemilu yang korup, setelah terpilih dan menjabat berusaha mengembalikan modal politik dengan menggerogoti APBN-APBD, anggaran dan proyek publik dibagi kepada tim sukses, sumber daya alam dijual kepada asing dengan suap, suap dibagi-bagi kepada birokrasi, jika tertangkap aparat penegak hukum kasus dan vonis bisa dibeli karena penegak hukum masih korup (news.detik.com).
                Pendanaan parpol yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 sebagaimana diubah dengan UU No 2/2011 gagal mengemban misi agar menjauhkan parpol dari penggunaan pemilik uang. Kajian KPK menunjukkan masih ada kelemahan dalam UU Parpol. Banyak politisi yang membidik sektor strategis untuk mencari pendanaan kampanye partai politik. Sektor strategis tersebut adalah kehutanan, energi, pertanian dan pengelolaan haji (Kompas.com). Korupsi sistemik yang terjadi di Indonesia lebih banyak dilakukan oleh para politisi yang menginginkan kekuasaan dalam pemerintahan. Banyak dari politisi mempergunakan partai politik sebagai jalur mendapatkan kekuasaan tersebut, sehingga keberadaan partai politik menyimpang dari fungsi yang sebenarnya. Parpol yang seharusnya mampu menampung kader pemimpin, menghimpun aspirasi rakyat dan mampu berjuang untuk mewujudkan aspirasi tersebut, justru menjadi kendaraan menuju kekuasaan dengan korupsi sistemik sebagai bahan bakarnya. Korupsi sistemik ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:
a.       adanya kelemahan pengaturan perundang-undangan dalam soal pendanaan partai politik. Undang-undang yang mengatur tentang parpol masih memiliki banyak kelemahaan terkait pengaturan pendanaan, meliputi batasan sumbangan, sanksi, mekanisme pelaporan dan batasan jumlah hingga jenis pengeluaran dana parpol. Kelemahan itu kemudian dimanfaatkan dalam bentuk celah-celah yang belum diatur, menggelapkan dana publik dengan memanfaatkan kelemahan sanksi.
b.      kecenderungan untuk mengarahkan keterpilihan politik atas dasar kemampuan alokatif daripada kemampuan otoritatif alias kapasitas personal. Sistem demokrasi membuat setiap orang yang terlibat didalamnya membawa kepentingannya masing-masing. Sehingga dalam proses pemilihan umum yang demokrasi tidak jarang terjadi suap menyuap demi memenangkan suara dan yang terpilih bukan orang yang mempunyai kapasitas baik dalam memimpin.
c.       Politik uang yang menjadikan kekuasaan sebagai ajang pungutan dan pengurasan.
d.      Hubungan pengusaha dan politisi. Politisi membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk kampanye dan memenangkan parpol mereka. politisi membangun jaringan untuk berhubungan baik dengan pengusaha sehingga pengusaha mampu membiayai dana kampanye yang dapat berujung pada politik uang.
e.       Berkembangnya pragmatisme politik. Itulah beberapa hal yang menyebabkan terjadinya korupsi sistemik.

B.       Teori Sosiologi yang Bersangkutan
Sebagai perbuatan yang menyimpang dan sudah menjadi penyakit sosial dalam masyarakat, kasus korupsi dapat dikaji dengan teori Sosiologi. Untuk mengkaji permasalahan korupsi, maka digunakan teori sosiologi untuk membahasnya. Teori tersebut adalah teori struktural fungsional milik Talcot Parson. Menurut Parson ada empat fungsi penting yang mutlak dibutuhkan bagi semua sistem sosial, meliputi adaptasi, pencapaian tujuan atau goal attainment, integrasi, dan Latensi yang terkenal dengan sebutan AGIL. Adaptasi berupa fungsi yang amat penting disini, sistem harus dapat beradaptasi dengan cara menanggulangi situasi eksternal yang gawat, dan sistem harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan juga dapat menyesuaikan lingkungan untuk kebutuhannnya. Goal attainment merupakan pencapaian tujuan sangat penting, dimana sistem harus bisa mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya. Integrasi artinya sebuah sistem harus mampu mengatur dan menjaga antar hubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya, selain itu mengatur dan mengelola ketiga fungsi (AGL). Latensi berarti sistem harus mampu berfungsi sebagai pemelihara pola, sebuah system harus memelihara dan memperbaiki motivasi pola-pola individu dan kultural.
Korupsi sistemik merupakan kesalahan fungsi yang terjadi dalam sistem pemerintahan. Pemerintahan yang seharusnya mampu mengayomi rakyat, namun justru menjadi gagal karena melakukan kasus korupsi, seperti yang terjadi pada gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah. Korupsi dalam politik pemerintahan berarti belum mampu beradaptasi dengan sistem pemerintahan yang baik, sehingga tujuan, integrasi dan latensi dalam pemerintahan tidak berjalan dengan baik.  Namun, AGIL juga terdapat dalam korupsi sistemik itu sendiri, dimana terdapat adaptasi, tujuan, integrasi dan latensi dalam korupsi yang sudah tersistem. Suatu adaptasi korupsi biasanya sudah terjadi dari partai politik itu sendiri, seperti pada kerjasama antara parpol dan pengusaha yang menyebabkan adanya politik uang. Tujuan dari korupsi itu sendiri adalah untuk mendapatkan kekuasaan dengan mudah, sehingga terbentuk integrasi antara anggota partai untuk melakukan korupsi dan pada akhirnya korupsi menjadi latensi pada partai politik dan di tubuh pemerintahan.
C.      Catatan Akhir
Melihat realita korupsi sistemik tersebut perlu adanya revolusi pada politik yang digunakan pada sistem pemerintahan. Revolusi tersebut perlu dilakukan dari akarnya yaitu partai politik. Partai politik banyak melahirkan pemimpin-pemimpin negara yang baik, namun berada pada langkah yang salah. Kesalahan langkah ini terdapat pada korupsi sistemik yang akhirnya menjerumuskan pemimpin pada penjara. Parpol perlu membina kadernya dengan baik. Sehingga parpol dapat melahirkan pemimpin yang anti korupsi dan mampu memberantas koruptor-koruptor kelas kakap yang ada di pemerintahan. Selain itu diperlukan keberanian pada badan hukum yang menangani koruptor khususnya Komisi Pemnberantasan Korupsi (KPK) untuk memiskinkan koruptor dan dengan hukuman yang seberat-beratnya. 
Revolusi politik dapat pula dilakukan dengan penghapusan dinasti politik yang ada pada tubuh pemerintahan. Suatu dinasti politik memperlihatkan adanya nepotisme yang rentan dengan korupsi. Sehingga dinasti kekeluargaan dalam politik lebih baik dihapuskan dan kembali pada asas demokrasi, dimana pemimpin dipilih oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Pelaksanaan demokrasi harus didasarkan pada jujur dan adil, dimana menuju kepemimpinan harus membawa kepentingan umum dan tidak mementingkan kepentingan sendiri maupun kelompok.
Kesadaran demokrasi juga mendorong adanya pendidikan politik dan pendidikan anti korupsi yang dapat diterapakan pada lembaga pendidikan formal dari tingkat dasar. Generasi masa depan harus dibiasakan dengan kegiatan-kegiatan positif anti korupsi yang dapat membentuk karakter baik bagi pemimpin di masa depan. Hal kecil yang mudah diterapkan pada anak-anak adalah berkata jujur yang dapat diterapkan dimana saja dan kapan saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN OBSERVASI TAMAN PINTAR

A.     DESKRIPSI TAMAN PINTAR 1.       Sejarah Taman Pintar Taman Pintar merupakan obyek wisata pendidikan keluarga di Kota Yogyakarta yang menawarkan wahana belajar sekaligus rekreasi yang komplit untuk anak-anak, mulai dari usia pra sekolah hingga tingkat sekolah menengah. Rentang usia kelompok sasaran ini dipilih karena dipandang sebagai generasi penerus bangsa yang potensial untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Di dalam taman yang digagas oleh Wali Kota Yogyakarta, Herry Zudianto, SE.Akt, MM, dan dibangun di atas lahan seluas 12.000 meter persegi ini, terdapat enam zona dengan bermacam wahana bermain dan belajar yang disertai alat peraga iptek. Begitu memasuki kawasan ini, pengunjung dapat langsung menyaksikan dan mencoba hasil karya inovasi teknologi dan permainan dari pelbagai wahana tersebut. Di Indonesia, terbentuknya taman semacam ini diawali dengan berdirinya pusat peragaan iptek yang berlokasi di Taman M...

perubahan Sosial Budaya di Terminal Giwangan

Perubahan sosial adalah suatu keadaan yang berbeda dari keadaan awal dan sesudahnya peristiwa itu terjadi. Karena ada tiga indikator yaitu: faktor penyebab, proses, dan dampak. Terminal giwangan adalah salah satu contoh penyebab adanya perubahan sosial di daerah Yogyakarta, khususnya masyarakat Giwangan sendiri.

share everything

ketika aku merasa gagal akan segala hal, kau mengjarkan bahwa aku masih beruntung memiliki wanita kuat sepertimu.  memang jauh di mata, tapi dekat di hati. Memiliki perasaan yang tiada tara habisnya. tanganmu, tak pernah membelai rambutku, yang kini mulai menipis, banyak yang rontok, sudah tidak seperti dulu, ketika kau bilang, rambutku sepertimu, mengembang tebal, dan terlalu banyak. tapi, aku tahu, kau mengirimkan belaianmu lewat doa-doamu, Tuhan mengirimkan kasih sayangmu yang jauh disana. meskipun aku tak pernah bagaimana dekapanmu, yang kata orang, dekapan dari wanita sepertimu, mampu menghilangkan seribu kesedihan, tapi aku tak pernah tahu bagaimana rasanya. yang aku tahu, dekapan itu adalah dekapan dari Tuhan yang mengirimkan dekapan darimu.  ketika aku merasa bahwa ketidakadilan itu serasa mencekik kehidupanku di masa ini, aku akan merasa sangat berdosa jika melupakanmu dari semua perjuangan yang telah engkau berikan.saat aku merasa aku berjuang sendiri, aku menco...