Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2013

Analisis Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini), Pendidikan Penting VS Pendidikan Tidak Penting

Alangkah Lucunya (Negeri Ini) adalah film karya anak bangsa yang disutradari oleh Deddy Mizwar. Sutradara sekaligus artis profesional tersebut juga memerankan seorang tokoh Ayah dari pemain utama, yaitu Muluk. Muluk adalah tokoh utama yang diperankan oleh Reza Rahardian. Ayahnya bernama Makbul yang hanya menjadi seorang tukang jahit. Muluk adalah sarjana Manajemen yang belum mendapat pekerjaan dan sudah dua tahun menganggur. Teman menganggurnya yang lain adalah Samsul yang diperankan oleh Asrul Dahlan, sarjana Pendidikan yang hanya main catur dan gaple di Pos ronda. Pipit diperankan oleh Tika Bravani, juga teman dari Muluk yang hanya menganggur di rumah saja. Lebih sering mengikuti undian di televisi daripada sibuk mencari kerja. Muluk, Samsul, dan Pipit adalah tiga anak muda yang tersandung dalam permasalahan yang “lucu” di negeri ini. Dalam film tersebut mengandung banyak pesan dan nilai-nilai yang disampaikan, baik tersurat maupun tersirat. Secara tersirat film tersebut...

teori sosiologi dan curhatanku

selalu duduk sendirian, paling depan dan nggak punya teman. setidaknya aku tak ingin menerapkan teori karl marx, hanya mencari keuntungan dari hubungan pertemanan (akhirnya kapitalis deh). coba jadi seperti apa yang dikatakan durkheim. semua dilakukan atas dasar struktur dan fungsinya. biasanya sih, yang duduk di depan menurut struktur, dia orang paling nrimo, tapi secara fungsi dia bisa jadi pinter!hahaaa....  menghibur diri sendiri, yang jelas, terima semua keadaan dengan bahagia dan positif saja, meskipun kamu disini duduk sendiri, tapi di sebelah ada temen teriak-teriak, Ngrasa nggak dianggep? ah, nggak juga, aku hanya mencoba biasa. biasa tanpa teman dekat, biasa tanpa sahabat. ntar juga ada yang deketin, walaupun mungkin kapitalis (berharap untung). terima dengan lapang dada, jangan menyulut konflik lah, jangan terapkan semua teori konflik, entah milik siapapun, Marx, Coser, NeoMarxis, Jurgen Habermas, Ah, siapapun! Bersikaplah struktural fungsional. agar tetap baik-baik s...

Pemetaan konflik yang sering terjadi di Indonesia dan Teorinya

A.     Konflik yang sering Terjadi Menurut Kementerian Sosial dalam tvberita.com Konflik yang sering terjadi adalah tawura dengan presentase 30%, sedangkan konflik pemilihan kepala daerah sebanyak 10% dan konflik disebabkan suku agama dan ras (SARA) hanya sebesar 1 %. Sedangkan menurut Kementerian dalam negeri, beberapa konflik yang terjadi antara tahun 2010 hingga 2013 adalah sebagai berikut : Tahun 2010 terjadi 93 kasus, tahun 2011 terjadi 77 kasus tahun 2012 terjiad 128 kasus dan tahun 2013 terjadi 53 konflik. Data dari Kementerian Dalam Negeri mengungkapkan bahwa konflik yang sering terjadi adalah sengketa tanah yang meliputi 22 provinsi di Indonesia. Ada pula, 65 kali ancaman teror, dimana 30 kali ledakan bom, dan penangkapan 55 tersangka teroris di Indonesia. Menurut data dari Kementerian Sosial dan Kementerian Dalam negeri tersebut, maka pemetaan konflik dapat dijadikan sebagai berikut ...